filsafat pengangguran

Posted: November 26, 2012 in Uncategorized

Bila saya renungkan -sambil buang air besar di pagi hari-, istilah ‘nganggur’ masih juga belum ditemukan awal kemunculannya. Tapi daripada saya dibilang ‘nganggur’ gara-gara memikirkan pengangguran, mendingan saya cebok dulu. Lalu membersihkan wc, terus mandi, dan nggak lupa gosok gigi. Masuk kamar ganti baju, nyalakan komputer dan menulis tentang pengangguran.

Kata ‘pengangguran’ bagaikan kematian yang akan menimpa semua orang. Siapa orangnya yang tak luput kena vonis nganggur? Kalaupun tidak ada, itu mungkin karena aktifitasnya menunjukkan rutinitas. Dan kalau ada, itu mungkin karena aktifitasnya tidak menunjukkan rutinitas, bisa berarti: tidak stabil, tidak konstan dan tidak konsisten. Namun, benarkah pengangguran itu ada?

Di benak orang, ada beberapa kemungkinan bagaimana meidentifikasi penganggur, yaitu tidak terlihat gerak tubuh atau ke luar rumah; tidak terbukti menghasilkan uang; sering nongkrong dan keluyuran; makan masih numpang atau minta; sering berhutang dan lama melunasinya; tidak punya lahan; tidak tahu apa yang harus diperbuat; belum menemukan potensi diri. Akan tetapi yang aneh justru -seingat saya- kata ‘pengangguran’ itu muncul setelah maraknya sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan sekuler, khususnya perguruan tinggi. Saya tidak tahu ketika jaman ayah dan kakek saya, mungkin orang yang lebih tua dari saya lebih tahu: sejak kapan istilah ‘pengangguran’ itu muncul, dan bagaimanakah status petani pemilik lahan sawah atau kebun?

Jangan-jangan pengangguran itu memang sengaja diadakan dengan umpan lambung sekolah. Boleh jadi, karena memang sebagian besar orang tua menyekolahkan anak-anaknya supaya mereka mudah mendapatkan pekerjaan atau mendapatkan profesi yang dianggap lebih baik daripada generasi sebelumnya. Dengan kata lain, ijazah adalah target, dan pekerjaan adalah hasil ahir. Bila kita cermati, sebagian besar kurikulum pendidikan didesain untuk mencetak tenaga ahli dengan bobot mata pelajaran cukup memberatkan. Wajar saja, kalau SDM Indonesia dianggap kurang berkualitas. Tapi justru orang akan mendapatkan suatu pencerahan ketika lepas dari mainstream yang telah ‘terpaksa’ disepakati.

Satu hal: pada dasarnya orang tidak mau diperintah atau terpaksa melakukan pekerjaan yang tidak disukainya. Bahkan ada juga orang yang mencari kerja dengan harapan mendapatkan uang, tapi tidak tahu pekerjaan yang cocok baginya. Sebagai orang yang kena cap ‘nganggur’, maka saya tidak perlu tawaran kerja ataupun mencari kerja. Yang saya butuhkan hanyalah biaya operasional sehari-hari, jaminan hidup, dan kemudahan mendapatkan pinjaman dari bank. Itu lebih penting daripada mempermasalahkan UMR dan JAMSOSTEK. Dengan itu, saya bisa bekerja dengan jam kerja melebihi takaran pegawai negeri. Tinggal bagaimana cara orang meapresiasi hasil karya dan menilai seberapa besar manfaatnya bagi bangsa.

Untuk sementara saya menarik kesimpulan bahwa pengangguran itu tidak ada, yang ada hanyalah pengambilalihan lahan. Dan penganggur itu tidak ada, yang ada hanyalah orang bingung. Solusi terbaik untuk menghilangkan image pengangguran adalah: pertama, mengaspirasikan diri bahwa kita adalah orang-orang yang berkarya dan produktif; kedua, membuktikan bahwa melakukan sesuatu yang bermanfaat, penuh kesadaran, dan tanpa keterpaksaan adalah lebih baik daripada menjadi PNS.

Iklan

Bekerja

Posted: November 30, 2012 in sosial

Ada suatu kebanggaan tersendiri jika kita terlihat oleh tetangga bergegas ke luar dari tempat tinggal, dan mereka sudah bisa memastikan bahwa kita akan berangkat kerja. Walaupun mereka tidak tahu apa yang akan kita kerjakan, yang penting kita tidak kelihatan berdiam diri di tempat. Setidaknya, kita tidak mau dikatakan tidak bekerja oleh orang sekitar. Di suatu saat, kita tidak tampak ke luar rumah, yang justru menimbulkan kecurigaan, karena kita dianggap masih mampu membiayai hidup sehari-hari.

Apa itu kerja? Dulu, orang yang disebut bekerja itu mungkin adalah orang yang menggarap ladang, sawah, kebun, berburu atau beternak. Karena memang para pelakunya kelihatan bergerak dan berusaha untuk menghasilkan kebutuhan pokok sehari-hari. Itulah salah satu yang membuat manusia bisa bertahan hidup, dan dengan itu pula manusia terlihat hidup sebagai makhluk yang berakal. Pada zaman ini, apakah manusia memahami apa yang dimaksud dengan ‘bekerja’?

Sebagian besar orang cenderung lebih suka bekerja untuk orang lain daripada bekerja untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya, atau juga untuk lingkungannya. Apalagi jika bekerja di sebuah instansi dan lembaga pemerintahan, di badan usaha milik negara, atau di perusahaan swasta besar dan ternama. Wajar saja, karena pada kenyataannya orang lebih suka diberi daripada memberi. Dan para pekerja umumnya tidak mau tahu perusahaan itu mendapatkan untung, rugi, ataupun bangkrut. Yang penting mereka harus rutin dapat gaji.

Ada berapa jenis pekerjaan di dunia ini? Apakah setiap kata kerja menunjukkan suatu pekerjaan? Jika diperhatikan, mungkin banyak jenis pekerjaan yang sebenarnya bukan ‘pekerjaan’, melainkan hanya diada-adakan saja: sekedar membuktikan adanya aktifitas semata. Barangkali harus ada sebuah lembaga yang mensensor kegiatan penduduk: apa yang perlu dikerjakan dan apa yang tidak perlu dikerjakan, atau siapa yang layak mendapatkan upah dan siapa saja yang tidak layak.

Bagaimana dengan pedagang? Profesi ini boleh dibilang cukup instant, klasik, dan lebih mudah untuk dilakukan, karena tidak terlalu banyak tenaga yang harus dikeluarkan. Tetapi tergantung juga dengan apa yang diperdagangkan. Walaupun kategori ini kelihatan bergerak, tetapi masih banyak pedagang yang kurang mengenal barang dagangannya sendiri. Mereka berdagang hanya untuk mendapatkan keuntungan saja. Padahal pada dasarnya, keuntungan bagi para pedagang adalah upah yang tertunda. Di sinilah mungkin perbedaan antara ‘kerja berdagang’ dengan berdagang.

Lalu apa hikmah ‘bekerja’? Adakah manfaatnya selain untuk mempertahankan hidup? Apakah bekerja harus selalu menghasilkan uang, sementara taraf hidup masyarakat seperti kembali lagi ke masa primitif: ‘kerja untuk makan’ bukan lagi ‘makan untuk kerja’? Kendaraan pun yang notabene benda mati tidak akan menyala tanpa bensin, dan belum yang lainnya seperti pelumas. Kembali pada diri kita masing-masing: apakah kita memang sedang bekerja?

lintasan pikiran

Posted: November 24, 2012 in Uncategorized

Pernahkah kita berpikir mengapa kita tiba-tiba berada di sini, di bumi ini, di Asia, di Indonesia, di Jawa, di Bali atau berada di suatu komunitas yang membentuk suatu tradisi latah- turun temurun? Mengapa kita tidak lahir di planet lain: Saturnus, Mars, Pluto, atau di belahan bumi lain: di Eropa, Amerika, Antartika, Kutub Utara? Hal ini seperti tak terelakkan sebagaimana masalah kewarganegaraan, etnis, dan agama. Setiap bayi yang lahir, secara otomatis menjadi bagian dari suatu kelompok atau bangsa yang dihuni orang tua mereka lalu mengikuti ajaran dan keyakinan leluhurnya.

Mengapa kita tidak lahir pada masa lampau: zaman Romawi, zaman Majapahit? Atau kita lahir 10 tahun ke depan misalkan, atau kita terlahir sebagai manusia penutup zaman? Mengapa kita seolah tidak diberi kesempatan untuk memilih ruang dan waktu kelahiran? Lalu, sejak kapan kita sadar bahwa diri kita itu memang ada, dan berada di suatu wilayah hukum?